Jumat, 23 Oktober 2015

SEJARAH MASJID AGUNG SUMEDANG

tentang kota sumedang

Masjid Agung Sumedang , dari beberapa sumber disebutkan, bahwa ditatar Jawa Barat ada beberapa Masjid Agung yang dilindungi oleh Undang-Undang Kepurbakalaan Badan Arkeologi RI, salah satunya adalah Masjid Agung Sumedang. Masjid Agung Sumedang dianggap memiliki nilai sejarah tinggi yang perlu dilestarikan sehingga dilindungi oleh Undang-Undang Kepurbakalaan Badan Arkeologi Republik Indonesia, karena selain berusia ratusan tahun, Masjid ini juga menjadi salah satu saksi bisu perjalanan panjang sejarah penyebaran Agama Islam di Nusantara pada umumnya dan di Kabupaten Sumedang pada khususnya.
            Masjid yang berada di Lingkungan Kaum, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan ini dibangun pada tahun 1850 masehi di atas tanah wakaf Rd. Dewi Aisah, pembangunannya digagas oleh Pangeran Soegih atau Pangeran Soeria Koesoemah Adinata, Bupati Sumedang tahun 1836-1882. Pada proses pembangunannya ada sebuah cerita, yang menjadikan Masjid Agung Sumedang sekarang ini terlihat unik, yaitu memiliki atap masjid bersusun tiga makin ke atas makin kecil, mirip bangunan Pagoda, Kelenteng atau Vihara. Tentu saja ini tidak lepas dari keberadaan etnis Tionghoa di Sumedang kala itu, yang menjadikan Masjid Agung Sumedang ini memiliki perpaduan arsitektur Tionghoa dan Islam.
Dari cerita yang berkembang secara lisan dan turun temurun di masyarakat, konon saat pembangunan Masjid Agung Sumedang ini kebetulan bertepatan dengan masuknya sejumlah imigran dari daratan Tionghoa ke Sumedang, mereka hidup nomaden dan terus berpindah dari satu tempat ketempat lainnya. Mereka piawai atau ahli dalam membuat rumah ibadat dan mengukir berbagai ornamennya, selain itu mereka memiliki keterampilan berniaga dan bertani, dan yang tak kalah pentingnya adalah mereka sangat jago ilmu beladiri, seperti di film-film.
Dikisahkan, kelompok pendatang dari daratan Tionghoa tersebut ingin menunjukkan eksistensinya di Sumedang dengan cara menjajal ilmu bela diri mereka dengan pribumi, apalagi saat itu konon di daerah kaum Sumedang pernah ada tempat khusus yang disebut kalangan, yaitu tempat berlatih atau bertanding ilmu beladiri. Tak perlu menunggu lama, akhirnya mereka pun dipertemukan dengan sejumlah tokoh Sumedang yang jago ilmu bela diri .Pertandingan pun dimulai, kedua belah pihak betanding dengan sengit. Pertandingan ilmu bela diri tersebut berakhir dengan kekalahan etnis Tionghoa dan para pendekar Sumedang keluar sebagai pemenang, sebagai tanda menyerah dan menghormati pribumi, mereka pun akhirnya bersedia mengabdikan diri pada para tokoh Sumedang saat itu.
Salah satu bentuk pengabdian mereka tersebut adalah membantu mendirikan Masjid Agung Sumedang ini. Oleh Pangeran Soegih pun akhirnya diberi tempat untuk tinggal dan membangun pemukiman mereka di Sumedang, hingga kini tempat bermukimnya etnis Tionghoa di awal-awal kedatangannya tersebut bernama Gunung Cina. Maka dari itu tak heran jika bentuk bangunan Masjid Agung Sumedang ini seperti bergaya arsitektur Cina abad ke-19. Ciri khas lain diantaranya adalah Koridor sayap kiri dan kanan serta depan yang terbuka. Bentuk menara yang bersusun tiga, dan bentuk bujur sangkar yang disebut tumpang, disusun makin ke atas makin kecil, tingkatan paling atas merupakan atap terakhir berbentuk limas disebut mamale.
Pada bagian puncak dari Masjid Agung Sumedang ini bertengger sebuah benda yang disebut mustaka yang bentuknya menyerupai Mahkota raja-raja di masa lampau. Hal unik lainya dari Masjid Agung Sumedang adalah banyaknya tiang penyangga bangunan, dimana secara keseluruhan ada 166 tiang, dan konon hal tersebut adalah ciri khas arsitektur Masjid kuno dan antik bergaya abad ke 19. Bentuk mimbarnya pun sangat antik dan dibiarkan berdiri dalam bentuk aslinya, dengan empat tiang yang dicat keemasan dan bangunan kecil dengan atap limas. Tempat khatib berdiri dibuat dengan empat trap sebagai tangga dan tempat duduknya seperti singgasana kerajaan. Tombak yang biasa dipegang oleh muraqi dan khatib masih utuh terbuat dari kayu jati dan berumur satu abad lebih, sekitar 120 tahun. Pada zaman dulu juga untuk menentukan waktu sholat menggunakan jam istiwa yaitu jam yang menggunakan bayangan dari sebuah tongkat yang disinari oleh matahari.
Masjid Agung Sumedang ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Pertama kali pada tahun 1913 M oleh Pangeran Mekah. Berikutnya tahun 1962, 1982 dan terakhir pada tahun 2002 hingga menjadi seperti yang terlihat sekarang. Namun demikian, renovasi yang dilakukan tetap mempertahankan keaslian arsitekturnya karena dilindungi oleh undang-undang.


Sumber:

Bapak Abdul Syukur

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Dedi Irawan. Designed by Templateism